Menyongsong Sinode Am ke-XXIV GKPI tahun 2025: 
Semangat Pemimpin yang Bersahabatan

Batam Diselimuti Sukacita Persaudaraan GKPI


Batam, 22 September 2025 – Malam penuh hangat persaudaraan terasa di kediaman Bapak Jumaga Nadeak, S.H., M.H., Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau dua periode (2014–2019 dan 2019–2024) yang kini masih mengemban amanah hingga 2029. Di rumahnya di Batam Center, beliau membuka pintu dan hati untuk menerima rombongan pendeta GKPI dalam sebuah pertemuan penuh doa dan pengharapan.

Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan juga momentum iman menjelang Sinode Am Periode XXIV GKPI, di mana gereja akan menentukan arah kepemimpinan baru untuk periode 2025–2030. Suasana keakraban yang terjalin malam itu menghadirkan semangat kebersamaan, seolah menjadi tanda bahwa GKPI sedang dipimpin oleh penyelenggaraan Tuhan menuju masa depan yang penuh berkat.

Dalam kesempatan penuh kekeluargaan itu hadir dua figur calon pimpinan GKPI: Pdt. Dr. Ro Sininta Hutabarat, M.Th (calon Bishop GKPI) dan Pdt. Dr. Teddi Paul Sihombing, MM., M.Th (calon Sekretaris Jenderal GKPI). Dengan tulus, Jumaga Nadeak menyampaikan harapannya:

“Saya mendoakan yang terbaik untuk GKPI ke depan. Kiranya apa yang dituju di Sinode dapat tercapai, sebab tantangan pelayanan semakin berat. Tuhanlah yang memberikan yang terbaik bagi para calon, baik Pdt. Ro Sininta maupun Pdt. Teddi Paul Sihombing.”

Turut hadir pula warga jemaat GKPI serta tokoh-tokoh GKPI dari Batam yang dengan penuh sukacita menyatakan dukungan dan doa. Di sela-sela kehangatan itu, salah seorang utusan SAP GKPI 2025 menyampaikan kesaksian imannya: “Sosok Pdt. Teddi Sihombing merupakan pemimpin muda yang memiliki pontensi kepemimpinan yang diharapkan oleh GKPI saat ini. Kerendahan hatinya untuk bersahabat kepada semua golongannya menjadi kerinduan warga GKPI terhadap sosok pemimpin muda yang kreatif dan mumpuni. 

 

GKPI di Batam: Wajah Gereja dalam Kemajemukan

Provinsi Kepulauan Riau, dengan pusat pertumbuhan di Batam, adalah wilayah strategis yang kaya akan potensi kelautan, energi, perdagangan, dan pariwisata. Di tengah keberagaman agama, budaya, dan etnis, kehadiran GKPI dipandang sangat penting untuk menghadirkan terang Kristus melalui pelayanan iman, kasih, dan karya sosial.

Dalam refleksinya, Pdt. Dr. Teddi Paul Sihombing menegaskan bahwa gereja di Batam memiliki arti strategis dalam meneguhkan wajah GKPI ke depan:


“Batam adalah wajah Indonesia yang majemuk dan modern. Maka penting bagi GKPI di sini untuk tidak sekadar bertahan, tetapi hadir memberi arah, mendidik, dan memperlengkapi jemaat. Apa yang berhasil kita bangun di Batam harus menjadi model pelayanan bagi seluruh wilayah GKPI lainnya.”


Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa pelayanan GKPI harus ditopang oleh keseimbangan: tertib dalam tata kelola, ramah dalam pelayanan, dan berdampak dalam masyarakat. Dari semangat itu lahirlah visi pelayanan S.A.H.A.B.A.T. – Gereja yang bersahabat dilahirkan dari pemimpin dan pelayanan yang bersahabat. Sebuah panggilan agar gereja dan para pelayannya menghadirkan pelayanan yang bersahabat, ramah, dan penuh kasih, namun tetap teguh dalam prinsip iman. Lebih lanjut, Pdt. Dr. Teddi Paul Sihombing menegaskan bahwa visi S.A.H.A.B.A.T. bukan hanya dimaknai secara internal di dalam tubuh GKPI, tetapi juga bersahabat secara eksternal. GKPI dipanggil untuk hadir secara oikumenis, berjalan bersama dengan gereja-gereja lain dalam membangun iman jemaat, khususnya di Kepulauan Riau yang plural dan majemuk. “GKPI tidak bisa berjalan sendiri. Dalam kebersamaan oikumenis, kita meneguhkan kesaksian Kristus, sehingga pelayanan kita bukan hanya untuk jemaat GKPI, tetapi juga memberi dampak bagi masyarakat luas,” tegasnya.

Visi ini bukan sekadar slogan, melainkan arah rohani yang berakar pada teladan Kristus, Sang Sahabat Sejati. Dalam semangat S.A.H.A.B.A.T., GKPI dipanggil untuk membangun kepercayaan, mempererat kebersamaan, serta menghidupi kasih yang nyata bagi sesama dan alam ciptaan. Gereja tidak hanya hadir untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan zaman, menjadi rumah yang ramah bagi generasi muda, dan mercusuar pengharapan di tengah masyarakat yang plural. “Komitmen kami adalah membangun kepercayaan, baik internal maupun eksternal. GKPI harus meningkatkan kapasitas pelayanan agar mampu bergerak lintas bidang. Semua itu harus ditopang oleh dasar kajian yang kuat, supaya gereja hadir menjawab kebutuhan zaman, termasuk tantangan di kalangan generasi muda,” tegasnya.

Menyerahkan Masa Depan GKPI kepada Sang Gembala Agung
Pertemuan di Batam ini menjadi tanda pengharapan baru bagi GKPI. Kehadiran jemaat, tokoh-tokoh gereja, serta para calon pimpinan menunjukkan bahwa GKPI sedang menapaki jalan berkat yang penuh tantangan namun juga penuh janji Tuhan. Sebagaimana firman Tuhan mengingatkan: "Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah; jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu." (1 Petrus 5:2–3).

Kiranya GKPI semakin diteguhkan menjadi gereja yang bersahabat, berdampak, dan setia kepada Kristus, Sang Gembala Agung yang senantiasa menyertai umat-Nya. (r.o.b)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OIKOS DALAM KRISIS: Kritik Ekoteologi Terhadap Gereja dan Pertaruhan Masa Depan Ekologis di Sumatera”