Sermon Minggu Judika 7 Maret 2019



Hidup Dalam Kasih Setia Tuhan
Mazmur 25: 1-7
Pengantar.
Dapat dikatakan bahwa setiap orang yang beragama pasti berdoa. Doa menjadi bagian yang esensial dalam kehidupan manusia yang beragama. Doa memegang peranan penting untuk kelangsungan dan perjalanan hidup manusia, untuk itu hampir disetiap perjalanan hidup manusia beragama, ia akan berdoa untuk melakukan segala sesuatu agar ia memperoleh selamat dan sejahtera. Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ibrani. Ini dimaksudkan agar mudah dihafal oleh murid yang belajar. Jadi, mazmur ini adalah kurikulum pendidikan moral-teologi bagi generasi muda. Dalam kitab suci ada judul berikut ini: Doa mohon ampun dan perlindungan. Jadi, mazmur ini adalah sebuah doa. Lebih persis lagi ini adalah doa pribadi (untuk kepentingan pribadi). Dari isi Mazmur 25 ini, kita bisa memahami bahwa pemazmur mengalami pergumulan dan penderitaan. Dalam situasi penderitaan yang dialaminya, dia datang berlutut dan berdoa untuk menyampaikan doa penyerahan diri sebagai seorang yang sadar akan dosanya dan memohon pertolongan hanya kepada Tuhan saja. Dalam hal ini ketika memohon pertolongan dan perlindungan kepada Tuhan, pemazmur juga mengerti akan dosanya sehingga dia juga memohon pengampunan akan dosanya. Pemazmur sungguh mempercayai dan menyadari bahwa ia akan merasakan pertolongan dan pengampunan jika berseru kepadaNya.

Pendalaman ayat:
ayat 1-2 : Pemazmur berbicara tentang dirinya dalam diri orang pertama. Hal itu tampak dalam pemakaian kata aku dan ku. Pemazmur mulai dengan seruan bahwa ia mengarahkan jiwanya kepada Tuhan. Ia mau mempercayakan hidupnya kepada Allah. Ia mau mengandalkan Allah, agar hidupnya bermakna, tidak sia-sia, hidup yang memalukan dan memilukan. Ayat 1 ini Daud memiliki kepastian untuk mempersembahkan jiwanya, yang juga dapat diartikan hidupnya. Ia tidak hanya membawa korban persembahan seperti domba, tetapi ia juga mempersembahkan hidupnya kepada TUHAN, Allahnya. “Allahku, kepada-Mu aku percaya” (ay. 2). Percaya (bhs. Ibrani: bâtakh) berarti suatu komitmen yang pasti dan teguh untuk mempersembahkan seluruh kehidupannya secara utuh, tanpa harus ada keragu-raguan. Di dalam percaya terdapat suatu peribadahan, pengabdian dan penyembahan yang penuh terhadap yang ia percayai yaitu TUHAN. Dengan komitmen tersebut, tekandung suatu harapan dan penantian yang pasti akan penyertaan dan pertolongan dari yang ia Percayai, dalam hal ini yang ia percayai adalah TUHAN, Alllah Israel. Itulah sebabnya Daud pada ayat 2 ini melanjutkan doanya “janganlah kiranya ia mendapat malu, dan jangalah musuh-musuhku beria-ria atas aku”. Siapakah musuh-musuh Daud di sini, yaitu orang-orang atau bangsa yang mengingkan kematiannya, bahkan menginginkan hancurnya kerajaan yang ia pimpin, yaitu Kerajaan Israel Raya. Ia menaruh harapan dan kepercayaannya kepada Allah karena berdasarkan pengalaman ternyata orang yang berharap pada Allah tidak dipermalukan (ay 3). Selanjutnya dalam ayat 4-5, si pemazmur memohon pengajaran dan kebenaran, yang diungkapkan dalam metafor jalan. Ia meminta agar Allah sudi menuntun dia di jalan-jalan Allah. Yang menarik ialah bahwa ia mendasarkan permohonan ini pada pengalaman sejarah: Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala (ay 6). Dalam ayat 7 ia memohon pengampunan dosa, terutama dosa masa muda. Mungkin pada masa muda orang melakukan kesalahan dan keteledoran dalam semangat muda yang berlebihan. Atas dosa seperti itu ia memohon pengampunan Allah. Menarik juga bahwa ia mendasarkan keberanian memohon pengampunan dosa ini atas dasar pengalaman sejarah. Ia meminta agar dosanya dihapuskan berdasarkan kasih setia dan kebaikan Allah (ay 7).

Aplikasi:
1.     Pemazmur dalam doanya ini terdapat “Pengakuan dan penghormatan” yang  terlahir dari hati dan dengan kata pengakuan tersebut terekspresikan. Persoalannya bagaiamana jemaat menghayati doa dalam sikap yang positif, midset/essensi dan komitment sebagai integritas jemaat dalam doa? Bill Brigh dalam bukunya menuliskan “doa merupakan bagian yang vital dalam hidup orang percaya, doa semestinya keluar dari hati yang suci. Inilah yang dapat kita pelajari dari Pemazmur bahwa Hidup dalam kasih setia Tuhan. Marthin Luther juga pernah mengatakan bahwa doa merupakan karakter iman jemaat dalam menghargai Allah. Menurut Marthin Luther dalam buku Katekismus Besar yang diterjemahkan (Anwar Tjen, 1994:22) mengatakan “Titah ketiga dalam hukum taurat dikatakan, Jangan menyebut nama Tuhan Allah dengan seenaknya karena Allah akan menghukum orang yang menyalahgunakan nama-Nya”. Martin Luther menjelaskan maksud sebagai berikut: Kita harus takut serta kasih kepada Allah, sebab itu jangan mengutuki, mengumpat, memakai guna-guna, berbohong, menipu dengan memakai nama Allah; sebab hanya dalam penderitaan, kesusahan, dan di dalam doa serta pujianlah kita layak menyebut nama Tuhan Allah. Menggunakan nama Tuhan Allah adalah demi mendukung kebenaran dan ketaatan kepada diri-Nya. Dengan demikian nama-Nya dikuduskan dan dihormati.
2.     Ketika Daud memperkenalkan suatu jalan yang diyakini dengan pasti bahwa akhir jalan itu menuju sukacita dan keabadian, yakni keselamatan yang telah TUHAN sediakan kepada orang yang setia kepada-Nya. Namun, terlebih dahulu kita harus percaya kepada yang kita percayai siapa yang menjadi Allah kita. Dalam hal ini Allah kita adalah TUHAN, Pencipta, kuasa dan kemuliaan-Nya tidak ada yang dapat menyamai baik di segala waktu dan tempat. Percaya kepada TUHAN adalah suatu pengakuan bahwa kita siap mengabdi, beribadah, dan mempersembahkan hidup kita menjadi milik kepunyaan TUHAN. Dengan itu muncullah kerinduan untuk berdiam dan setia hidup dalam jalan TUHAN, yang mana jalan TUHAN berujung kepada kebahagiaan kekal. Orang jahat dan orang yang tidak mau berdiam dalam jalam TUHAN akan beroleh kebinasaan. Oleh karena itu, sebagai milik kepunyaan Allah, mari kita setia dan tetap berdiam dalam jalan atau kehendak TUHAN. Salam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OIKOS DALAM KRISIS: Kritik Ekoteologi Terhadap Gereja dan Pertaruhan Masa Depan Ekologis di Sumatera”