KARAKTER JEMAAT DALAM BERDOA

KARAKTER JEMAAT DALAM BERDOA
Abstrak.
Tentu doa menjadi bagian yang esensial dalam kehidupan manusia
beragama. Doa merupakan wujud nyata dari hubungan yang intens dengan Allah yang
mencakup segala sikap manusia dalam merespon karyaNya. Jika mau jujur terhadap doa jemaat tidak hanya berisikan perintah atau
bahkan pemaksaan yang dibungkus pada permohonan untuk segera dikabulkan oleh Allah
bagi kepentingan sendiri. Doa merupakan sarana praktis dalam hubungan yang
dangkal tanpa kuasa yang mempengaruhi kehidupan spiritual jemaat.Allah sebagai
obyek yang hanya mendengarkan doa tanpa mau mendengarkan suara Allah di doa
tersebut. Selayaknya integritas jemaat dalam doa adalah karakter jemaat yang dilandasi pada IESQ.
Kata kunci : Esensi kehidupan, hubungan yang intens, mendengar suara
Allah, karakter iman jemaat dan IESQ.
- Pendahuluan.
1.
Doa
sebagai jalinan hubungan dengan Allah.
Dapat dikatakan bahwa setiap orang yang beragama pasti
berdoa. Doa menjadi bagian yang esensial dalam kehidupan manusia yang beragama.
Doa memegang peranan penting untuk kelangsungan dan perjalanan hidup manusia,
untuk itu hampir disetiap perjalanan hidup manusia beragama, ia akan berdoa
untuk melakukan segala sesuatu agar ia memperoleh selamat dan sejahtera. Menurut
Belferik Manullang mengutip pernyataan Suparlan (Suparlan,2005:23) “adanya
pergeseran nilai-nilai yang terkandung didalam pandangan hidup, sikap dan
perilaku hidup manusia dari kualitatif spiritual menjadi kualitatif material.
Saya sependapat dalam hal ini karena memang doa hanya merupakan sarana permohonan
bagi kebutuhan-kebutuhan jasmani”. Doa tidak hanya sebatas pengetahuan atau yang
sebut Intelegtual Quotient (Kecerdasan Intelegtual atau IQ) sebagai komunikasi
atau berhubungan dengan Allah dan kebutuhan jemaat yang disebut dengan Emosinal
Quotient (Kecerdasan Emosional atau EQ) sering diungkapkan dengan nafas orang
percaya/kristen. Akan tetapi Doa adalah suatu dimensi yang berhubungan
dengan alam roh. Semua orang dapat berdoa sesuai dengan keyakinan atau sesuatu
yang dipercayainya memiliki kuasa yang diluar kekuatan/kuasa manusia yang
keluar dari suara hati yang terdalam atau yang dimaksud dengan Spiritual
Quotient (Kecerdasan Spiritual atau SQ). Doa dalam pengertiannya secara
universal selalu berhubungan dengan sesuatu yang berada di luar kehidupan
normal seorang manusia yang lebih bersifat supranatural.. Menurut ensiklopedia
alkitab masa kini jilid I (J.G.S.S
Thomson, 1997;249) bahwa essensi doa ialah kebaktian yang mencakup segala sikap
roh manusia dalam pendekatannya kepada Allah. Orang Kristen berbakti kepada
Allah jika ia memuja, mengakui dan memuji dan mengajukan permohonan kepada-Nya
dalam doa. Doa sebagai perbuatan tertinggi yang dapat dilakukan oleh roh
manusia.
Pengakuan dan penghormatan terlahir dari hati dan dengan
kata pengakuan tersebut terekspresikan. Persoalannya bagaiamana jemaat
menghayati doa dalam sikap yang positif, midset/essensi dan komitment sebagai
integritas jemaat dalam doa ? Bill Brigh dalam
bukunya menuliskan “doa merupakan bagian yang vital dalam hidup orang percaya,
doa semestinya keluar dari hati yang suci. Bill Brigh mengutip Mazmur 66 : 18
“Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, Tentunya Tuhan tidak mau mendengar”
(Bill Bright, 2001: 225). Marthin Luther juga menjelaskan bahwa doa merupakan
karakter iman jemaat dalam menghargai Allah. Menurut Marthin Luther dalam buku
Katekismus Besar yang diterjemahkan (Anwar Tjen, 1994:22) mengatakan “Titah
ketiga dalam hukum taurat dikatakan, Jangan menyebut nama Tuhan Allah dengan
seenaknya karena Allah akan menghukum orang yang menyalahgunakan nama-Nya”.
Martin Luther menjelaskan maksud sebagai berikut: Kita harus takut serta kasih
kepada Allah, sebab itu jangan mengutuki, mengumpat, memakai guna-guna,
berbohong, menipu dengan memakai nama Allah; sebab hanya dalam penderitaan, kesusahan,
dan di dalam doa serta pujianlah kita layak menyebut nama Tuhan Allah.
Menggunakan nama Tuhan Allah adalah demi mendukung kebenaran dan ketaatan
kepada diri-Nya. Dengan demikian nama-Nya dikuduskan dan dihormati.
Penghormatan kepada nama Allah terlaksana dengan berseru dan berdoa kepada-Nya.
Tentunya doa bukan hanya sekedar pengetahuan dan kebutuhan jemaat karena itu
hanyalah sikap praktis pragmatis. Sikap ini memicu pertumbuhan dan perkembangan
moral persaingan. Moral persaingan secara kuat mendorong perilaku
liberal-kapitalistik. Dimana jemaat berdoa meminta berkat materi bagi kebutuhan
hidupnya sendiri (Suparlan,2005:23).
2. Doa Menurut Alkitab :
1.
Pengetahuan
tentang kehendak Allah: rencana, jalan-jalan, dan perintah-perintah-Nya serta
diri Allah sendiri. (Harun H, 1995:29).
2. “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku,
tentulah Tuhan tidak mau mendengar. Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia
telah memperhatikan doa yang kuucapkan” (Mazmur 66:18-19)
3. “Siapa memalingkan telinganya untuk tidak
mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian.” (Amsal 28:9)
4. “dan apa juga yang kamu minta dalam
nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika
kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."
(Yohanes 14:13-14)
5. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang
apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam
doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6, 6)
6.
Permintaan/permohonan
harus sesuai dengan kehendak Allah (1 Yohanes 5 :14).
7. “Tentang hal itu aku sudah tiga kali
berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab
Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam
kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah
atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (II Korintus
12:8-9)
8. Roh membantu kita dalam kelemahan kita;
sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri
berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa
Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.” (Roma
8:26-27)
9. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu
bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka
menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi
janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan,
sebelum kamu minta kepada-Nya. Matius 6:7-8.
Melihat lebih dekat
doa kita setiap hari, tidaklah sulit untuk mendeteksi kebanyakan doa kita
terucap seperti orang-orang tidak percaya pada zaman Yesus dalam mencari apa
yang dimakan? dan apa yang diminum? apa yang dipakai? Secara umum doa-doa kita
hanya mewakili harapan dan permintaan-permintaan pribadi yang berpusatkan pada
keinginan diri sendiri, kebutuhan kita, sebagai pemicu mekanis tekun dalam doa
menghasilkan kuasa, berkat-berkat dan kebaikan ilahi untuk memenuhi hal-hal
yang sulit bagi kita.
3.
Realitas doa jemaat.
Sebagai suatu
sikap agama yang perlu, doa diungkapkan oleh hampir setiap orang dengan
kesadaran agama. Sesungguhnya, doa mewakili hasrat yang tulus dari seseorang
dan pengharapan yang bersemangat di tengah-tengah ketidakberdayaan,
penderitaan, dan kesulitan untuk memohon pertolongan dari suatu ilah tertinggi
yang diingininya. Meskipun demikian manusia mempunyai obyek yang berbeda
tentang pemujaan dan doa. Namun isi doa, seperti yang sering terjadi adalah
tidak lebih dari menginginkan dan meminta kepada Allah untuk memenuhi harapan
dan keinginannya. Dan bahkan lebih sering seperti memerintah dan memaksakan
Allah untuk segera mengabulkannya.
Dalam doa yang memerintah
dan memaksakan Allah untuk terus mendengar apa yang menjadi kegalauan hati oleh
karena ketidak percayaan atau bahkan kekerasan hati. Bahkan tidak adanya waktu
untuk datang menghampiri hadirannya sebagaimana sering diungkapkan bahwa doa
adalah sarana berkomunikasi dan nafas kehidupan orang percaya hanya merupak
selogan belaka. Dalam doa sebagaimana komunikasi terjalin dengan baik tentu
adanya saling mendegar satu sama lainya. Apa yang seharusnya kita dengarkan
dari Allah dalam doa kita ? Bill Brigh dalam bukunya menuliskan doa yang
sungguh-sungguh dan berdasarkan firman Tuhan dapat mengubah sesuatu. Doa juga
mengubah orang yang berdoa itu sendiri sehingga Allah dapat menyatakan
kehendakNya kepada mereka (Bill Bright, 2001:206).
- Mendengar Allah dalam doa.
- Pernyataan Allah
Menurut Harun Hadiwiyono
secara theologis, penyataan Allah terdiri dari penyataan umum dan khusus.
Penyataan umum membawa kita pada pengetahuan tentang Allah dan bagimana Ia
menyatakan kuasa, kesetiaan-Nya dan kasih-Nya melalui ciptaan-Nya dan
pemeliharaan-Nya, sehingga kita dapat dipenuhi oleh pujian dan ucapan syukur.
Ini sesungguhnya tingkat pertama dari doa Kristen, meminta Allah membuka mata
kita untuk melihat keilahian dan kuasa-Nya sehingga kita boleh memastikan
kesetiaan-Nya, belas kasihan dan keadilan tanpa alasan, dan lebih jauh lagi
untuk berterimakasih dan merasa bangga dalam perasaan kagum (Harun H, 1995:29)
Penyataan khusus
Allah yang kita maksudkan adalah kebenaran Allah yang sempurna yang
diinspirasikan Allah dalam inskripturasi Firman dalam Alkitab bersama dengan
hikmat dan mujizat dalam kehadiran keselamatan Kristus. Melalui Alkitab kita
belajar karya Kristus yang menyelamatkan dan kehendak Allah yang sempurna,
sehingga kita boleh masuk ke dalam kerajaan-Nya dalam Kristus dan mengenal
kemuliaan-Nya. Dengan alasan inilah doa Kristen harus mulai dengan membaca
Alkitab. Dengan demikian kita memperoleh pengertian yang baik mengenai ciptaan
Allah dan karya pemeliharaan-Nya (Harun H, 1995:40).
Dengan pernyataan
umum dan khusus ini maka inilah cara Allah memperkenalkan dirinya kepada
ciptaanya. Allah berkomunikasi dengan ciptaan bukan dengan teori melainkan
dengan pengalaman nyata ciptaaNya. Dengan ini maka manusia sebagai ciptaanNya
mengenal Allah karena Allah dengan firman dan karyaNya yang menakjubkan tampil
ditengah-tengah kehidupan manusia itu sendiri.
2. Inti berdoa kepada Allah.
Inti ajaran
Alkitab tentang doa dijelaskan oleh Westcott (NIDNTT 2, 855-886) 'Doa yang
benar doa ialah pengakuan dan penerimaan pribadi terhadap kehendak Allah' (Yoh 3 :16 ;14:7;
bnd Mrk 11:24).
Justru terkabulnya doa yang mengajarkan ketaatan, bukan pertama-tama terletak
pada pengajuan permohonan khusus itu, yang dianggap oleh orang yang berdoa
sebagai jalan menuju kepada tujuan yg diinginkan, tapi jaminan bahwa apa yang
Allah anugrahkan yang paling efektif menuju kepada tujuan tersebut. Demikianlah
kita diajar betapa Kristus telah mengajarkan bahwa tiap perincian hidup dan penderitaan-Nya
memperkenalkan misi Allah untuk mengasihi dunia, sehingga dengan cara demikian
Ia telah dikenal dengan cara yang paling sempurna.
Dalam doa
memancarkan karakter iman jemaat yang berangkat dari kecerdasan Spiritual.
Dalam rangka mencoba menelusuri seluruh realitas, manusia mencoba untuk menurut
rangkaian hubungan sebab-akibat sari segala kejadian dan akhirnya didapatlah
sebab utama =causa prima (Suparlan, 2005:48. Namun persoalan yang muncul ialah
bahwa manusia terjebak pada hal-hal mekanis praktis. Menurut Helminski yang
dikutib oleh Sukidi “dari sudut pandang metafisika maupun epistemologi, terjadi
krisis spiritual sebagai akibat dari kehendak manusia untuk memutuskan hubungan
dengan Tuhan (Sukidi, 2002:10). Doa tidak meliputi dimensi sikap positif,
polapikir esensial, komitmen normatif dan kompetensi abilitas, berlandaskan
IESQ. Doa yang berlandaskan IESQ ialah doa yang mengisi ruang spiritual jemaat.
3. Krisisnya jalinan hubungan dengan Allah.
Menurut Belferik
Manullang jika karakter hilang, maka segalanya telah hilang, karena karakter adalah roh
kehidupan. Sama halnya dengan doa jemaat, jika essensi doa hilang maka jalinan
hubungan dengan Allah juga telah mengalami gangguan. Jika gangguan ini terus
dibiarkan terus menerus maka sama halnya dengan penyakit yang terus dibiarkan
akan merusak jaringan lainnya. Sukidi merumuskannya “penyakit spiritual” yaitu
kondisi diri yang terfragmentasi, terutama dari pusat diri menjadi terputus
(Sukidi,2002:12). Mengapa penyakit spiritual ini dapat terjadi ? hati merupakan
lokus kesadaran manusia dimana pusat inti kesadaran realitas Tuhan berada. Jika
doa yang di sampaikan kepada Tuhan, namun Tuhan tidak berada didalam hati
jemaat yang berdoa dan mendengarkan Tuhan itu sendiri.
Putusnya hubungan
dengan sumber diri lebih lanjut Sukidi menjelaskan “sungguh tragisnya
keterputusan antara “the kingdom of the I” dengan the kingdom of the heart. Hal
ini disebakan karena “realitas eksistensi material” yaitu tempat dimana
ego-diri di isi dengan kepalsuan, kebohongan, tipu muslihat, mental hipokrit,
korupsi, kolusi, kekejaman, kediktatoran dan lain sebagainya menjadi kebiasaan.
Sementara Suparlan menyebutnya disharmonis dimana krisis moral manusia yang
terjadi diseluruh aspek kehidupan manusia memicu kepada persaingan dengan
perilaku hidup yang positivisme materialistik. Manusia semakin jauh terlibat
hal-hal yang asksidental yang menempel dan sekunder, tetapi semakin tidak
perduli dengan hal-hal yang substansial dan primer (Suparlan, 2005: 23).
Akhirnya manusia
kehilangan yang essensi dan filosofis (tidak manusiawi), kehilanngan
karakteknya. Manusia tidak sadar bahwa
segala krisis baik krisis ekonomi, bahan bakar, makanan, lingkungan, maupun
krisis kesehatan, justru berangkat dari krisis spiritual dan krisis pengenalan
diri kita terhadap yang absolut, Tuhan. Doa hanya sebatas pengetahuan yaitu
mamohon untuk kepentingan diri sendiri, doa hanya ungkapan perasaan karena
tidak mampu mememuhi kebutuhan sendiri namun tidak mendengar suara sang Ilahi/suara hati.
Dalam kitab Yokubus 4 : 1-10 bahwa putusnya hubungang doa atau doa yang
salah disebabkan oleh hawa nafsu :
4. Transformasi doa jemaat berlandaskan IESQ.
A. Pembentukan karakter doa jemaat.
Doa itu adalah sebuah dialog, sebuah
komunikasi, mengapa Yesus meminta kita untuk “jangan bertele-tele di dalam doa
kita di dalam komunikasi dan dialog itu?”. Menurut saya ada satu hal lain yang
mesti kita sadari dalam sebuah komunikasi dan dialog yaitu sikap
“mendengarkan!”. Komunikasi itu tidak hanya berarti saya berbicara tetapi juga
berarti saya mendengarkan! Jadi, dalam komunikasi selain ada tindakan
“berbicara”, ada juga kegiatan “mendengarkan” meskipun tetaplah harus diingat
bahwa komunikasi dengan Allah pertama-tama berarti saya mendengarkan Allah yang
berbicara kepadaku karena oleh doa, kita mau menjadi serupa dengan Dia dalam
doa kita mau menangkap kehendakNya agar ”Apa yang Engkau kehendaki saya
kehendaki; dan apa yang tidak Engkau kehendaki, tidak saya kehendaki” (St
Yohanes dari Salib, Nyala Cinta Yang Hidup, bait 1,no.36). Dalam konteks
seperti inilah kita mengerti kata-kata Yesus ini: ”dalam doamu itu janganlah
kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah”
Pendidikan karakter menurut penjelasan dan pemaparan
Belferik Manullang meliputi pengembangan sikap positif, polapikir esensial,
komitmen normatif dan kompetensi abilitas yang harus berlandaskan IESQ. Sikap
positif terdiri dari pemahaman (thought),
perbuatan (action) dan kebiasaan (habit). Landasan utama pemahaman adalah
IQ, perbuatan adalah IEQ dan kebiasaan landasannya adalah IESQ terutama SQ.
Polapikir esensial terdiri dari pendekatan praktis, pendekatan teoretis dan
pendekatan esensial. Landasan utama pendekatan praktis landasan utamanya adalah IQ, pendekatan teoretis adalah IEQ dan
landasan pendekatan esensial adalah IESQ terutama SQ. Komitmen terdiri dari
kontinuans, afektif dan normatif. Landasan utama kontinuans adalah IQ, afektif
landasan utamanya IEQ, dan normatif landasannya IESQ terutama SQ. Kompetensi
terdiri dari pemahaman konsep (knowledge),
keterampilan (skill) dan abilitas (abilities). Landasan utama pemahaman
konsep adalah IQ, keterampilan menerapkan konsep adalah IEQ dan landasan
abilitas adalah IESQ terutama SQ.
B. Esensi
IESQ
1. Esensi IQ
Menurut Belferik Manullang : “Essensi pendidikan
adalah sifat-sifat dasar yang harus ada dalam proses pendidikan supaya efektif
membentuk kepribadian”. Pembentukan IQ esensinya ialah education touch dan
taste for learning. Education touch dan taste for learning menuntut pertumbuhan
intelektual bergerak ketingkat yang lebih tajam. Membangun intelektual dengan
essensi pendidikan dapat mengkondisikan atmosfir pertumbuhan secara optimal (Belferik
2005; 117). Berfikir adalah sebuah proses mencari kebenaran, walaupun hasilnya
terbatas pada sudut pandang, tergantung pada indera. Karena itu, hal yang
penting dalam IQ ialah memberikan kesadaran bahwa keragaman sudut pandang
bermanfaat untuk memperluas wawasan berpikir. Kemudian kesadaran itu membawa
proses berpikir rasional, logis, linier, sistematis.
2. Essensi
EQ.
Mengenal emosi diri berarti kesadaran diri, mengenal
perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Ini merupakan kecerdasan emosional.
Orang yang memiliki perasaannya adala pilot yang handal bagi kehidupannya,
karena mempunyai kepekaan lebih tinggi akan perasan mereka. Mengelola perasaan
agar perasaan dapat terungkap dengan pas adalah kecakapan yang bergantung pada
kesadaran diri (Belferik, 2005:131). Keampuhan EQ dari IQ terlihat dari : penuh
motivasi dan kesadaran diri, empati, simpati, solidaritas tinggi, sangat sarat
kehangatan emosional dan interaksi kerja ( Sukidi, 2002: 45).
3. Essensi
SQ.
Pola pikir SQ adalah proses pemahaman kebenaran
holistik. Perspektif pemahaman terarah pada spektrum holistik. Kecerdasan ini
membuat seseorang cenderung mengutamakan perspektif yang lebih luas daripada
dekonsentrasi, sehingga mendorong loyalitas kelembagaan, kepedulian dan
dedikasi yang semakin besar.
Danah
Zohar dan Ian Marshall yang dikenal sebagai pencetus istilah spiritual
intellegence mendefinisikannya sebagai berikut : “Upaya manusia untuk mencari
makna hidup merupakan motivator utama dalam hidupnya, dan bukan “rasionalisasi
sekunder” yang muncul karena dorongan-dorongan naluriahnya. Makna hidup ini
merupakan sesuatu yang unik dan khusus, artinya, dia hanya bisa dipenuhi oleh
yang bersangkutan; hanya dengan cara itulah dia bisa memiliki arti yang bisa
memuaskan keinginan orang tersebut untuk mencari makna hidup.”Karena, mencari
makna hidup adalah motivator utama bagi manusia untuk menghadapi kehidupan ini
dan kecerdasan spiritual adalah ranah kecerdasan yang melakukan tugas mencari
makna tersebut, maka dapatlah dimengerti bahwa kecerdasan spiritual menampakkan
posisinya sebagai kecerdasan dan modal utama bagi manusia dalam menghadapi
kehidupan baik secara filosofis dan juga praktis.
Spiritual
Intelligence sebagai sebuah kecerdasan tentunya tidak berdiri sendiri, tetapi
juga melibatkan IQ dan EQ. Secara sederhana dapat dikatakan: IQ sebagai
kecerdasan memberikan jawaban atas pertanyaan “apa”; EQ sebagai kecerdasan
berusaha memahami “bagaimana”, dan SQ sebagai kecerdasan berusaha memahami
“mengapa” (Bowell, 2004:15) IQ dikenal bersifat linier atau seri yang logis dan
rasional; EQ bersifat asosiatif, artinya menciptakan asosiasi satu hal dengan
hal yang lain; dan SQ bersifat unitif (menyatukan) atau holistic, melakukan
kontekstualisasi dan transformasi.
Berpikir holistik adalah kemampuan untuk menangkap
makna dalam suatu konteks yang lebih besar. Kemampuan ini memungkinkan seseorang
untuk menangkap pesan dari hati nurani, sehingga ada kemampuan bertindak
heroik. Menurut Belferik bahwa hidup keseharian seseorang yang cerdas spiritual
antara lain rajin berdoa secara optimal, berada dalam posisi perjalanan hidup
yang lebih baik, memiliki keberanian untuk berpendirian benar, membimbing kehidupan
sebagai mahluk spiritual, merasa memiliki ikatan kekelurgaan dengan semua
manusia (siapapun), menganut standar etika dan moral, mengekspresikan kecintaan
kepada Tuhan, menahan diri untuk tidak melakukan pelanggaran hukum, meskipun
dapat melakukannya tanpa resiko kena sanksi (Belferik, 2005: 143).
Landasan pendidikan yang besar
(holistik) kuat (integralistik) dan benar (rasionalistik), disebut
Holintegrasio, akan memampukan seseorang untuk menggunakan pola pikir IQ-EQ-SQ
secara menyatu. Ketika IQ digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun
strategi, maka EQ mengiringinya dengan efektivitas membangun kepercayaan diri
dan membina hubungan yang efektif dengan orang lain. Sedangkan SQ membungkusnya
dengan rasa cinta, dan ketulusan dalam integritas diri dalam mengujudkan
dedikasi. EQ adalah prasyarat dasar mengefektifkan IQ, dan SQ adalah penguat
yang paling energik mengefektifkan IQ dan EQ (Belferik, 154). IQ-EQ-SQ
memampukan seseorang dapat menempatkan diri dengan serasi ditengah masyarakat,
bahkan membawa lingkungan kearah peradaban yang dikendali oleh hati
nurani. Pembangunan IESQ secara komprehensif merupakan prasyarat untuk membangun
sikap positif, polapikir esensial, komitmen normatif dan kompetensi abilitas.
5. Pembangunan IESQ secara komperhensif.
A. Sikap Positif.
Memakai penjelasan
dan uraian Belferik Manullang dalam menjelaskan dan memahami pembangunan IESQ
secara komperensif membantu kita memahami bagaiamana selanjutnya tujuan
tulisan. Paradigma integritas jemaat dalam doa yang menurut saya dapat membuka
wawasan dan kesadaran kita dalam memahami apa dan bagaimana seharuskan jemaat
berdoa. Harrel (2004. 10)
menyebut karakter sebagai “attitude”. In
your life attitude is everything. Your attitude today, determine your success
tomorrow. What
ever you do in life, if you have positive attitude, you’ll always be 100
percent. Sikap adalah persepsi
positif atau negatif yang menjadi motivasi perbuatan. Sikap positif melahirkan
sifat optimis, sabar, tekun dan selalu siap bekerja keras. Sikap negatif
melahirkan perbuatannya bersifat pesimis, kritik destruktif, bersungut-sungut bahkan sampai ke tingkat
frustrasi. Paradigma integritas jemaat dalam doa seharusnya harus memiliki
sikap positif. Norman Vincent (2000, 5) mengatakan sikap positif sebagai wujud
dari positive thinking. Sikap positif
memposisikan seseorang mudah diterima oleh orang lain. sikap positif dapat
dikategorikan menjadi tiga tingkatan yakni tingkat pemahaman, perbuatan dan
kebiasaan. Tingkat pemahaman menyangkut pengertian tentang konsep sikap
positif. Tingkat perbuatan adalah perbuatan sesuai konsep. Pada tingkatan ini perbuatan atas dasar sikap
positif masih lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, yakni faktor lingkungan.
Sikap positif pada tingkat terbiasa adalah perbuatan yang sudah menjadi
kehidupan (darah daging), di mana kebiasaan lebih dipengaruhi oleh
faktor internal yakni spirit yang tumbuh dalam dirinya sendiri. Tingkatan
pemahaman sikap positif berbasis pada IQ, perbuatan berbasis pada IEQ,
sementara kebiasaan berbasis pada IESQ.
B. Pola Pikir Esensial
(Mindset)
Polapikir
adalah pendekatan menemukan kebenaran. Ada pendekatan praktis, pendekatan
teoretis dan pendekatan esensial. Polapikir generasi saat ini tampaknya masih
terjebak pada tingkat praktis. Setiap masalah, tugas atau pekerjaan cenderung
diselesaikan dengan pendekatan praktis. Yang utama bagi mereka ialah masalah
cepat terselesaikan walaupun akan menimbulkan banyak masalah baru.
Istilah esensi
(essence) sesungguhnya sangat erat kaitannya dengan istilah hakekat (nature).
Jika hakikat pada dasarnya dapat diartikan sebagai karakteristik atau ciri khas
sesuatu hal, maka essensi dapat di maknai sebagai kualitas dan karakteristik
terpenting dari hal dimaksud ( Belferik, 40).
Essensi berdoa
ialah Menurut ensiklopedia
alkitab masa kini jilid I (J.G.S.S
Thomson, 1997;249) bahwa essensi doa ialah kebaktian yang mencakup segala sikap
roh manusia dalam pendekatannya kepada Allah. Sangat jelas bahwa
hubungan/komunikasi manusia dengan Allah adalah hubungan yang terjalin melalui
“roh”. Diatas juga telah diuraikan bahwa SQ yang dapat menyadarkan manusia
untuk menemukan makna adanya ruang Allah ( God spot ) yang dapat menghubungkan
manusia dengan Allah. Dengan berpikir essensial maka manusia berjuang mengisi
ruang Allah/ God spot melalui jalinan komunikasi jemaat dengan Allah. Dalam
kisah Daniel mengisahkan bahwa esensi doa merupakan karakter orang yang percaya
kepada Allah. Daniel 6 : 27 “ dst. Raja Darius mampu menemukan esensi doa yang
mampu membuktikan hubungan yang terjalin antara Daniel dengan Allah mampu
menyelamatkan hidupnya dan membuktikan karakternya.
C.
Komitmen
Normatif
Komitmen
adalah kesetiaan, ketaatan dan loyalitas baik terhadap lembaga maupun terhadap
bangsa di lingkungan mana ia berada. Ada tiga tingkatan komitmen yakni komitmen
kontinuans, komitmen afektif dan komitmen normatif. Komitmen kontinuans
didasarkan pada kepentingan transaksional. Seseorang memiliki komitmen tinggi
apabila mendapat imbalan yang seimbang, antara apa yang diberikan dengan apa
yang diterima. Semakin tinggi imbalan yang diterima maka yang bersangkutan pun
semakin komit. Komitmen afektif didasarkan pada keterikatan emosi. Semakin
tinggi keterikatan emosi maka yang bersangkutan semakin komit. Sedangkan
komitmen normatif, tidak hanya kekuatan transaksional dan ikatan emosi
melainkan secara moral ia bertanggungjawab. Saya setuju dan mengutip pemaparan
Belferik untuk menjelaskan apa itu komitment normatif dalam kaitannya dengan
doa jemaat. Dengan adanya komitment doa jemaat, alkitab juga mengajarkan bahwa
doa merupakan ketaatan dan kesetian jemaat dalam hubungannya dengan Allah.
Ketataan dan
kesetian Daniel dalam doa membuktikan “komitment normatif” dalam doa, Kisah
Nabi Daniel yang setia dan taat dalam doa meskipun ada larangan yang
menjebaknya oleh karena kecemburuan tidak menghalanginya untuk tetap
berhubungan dan berkomunikasi dengan Allah (Daniel pasal 6).
Demikian juga
rasul Paulus merupakan model yang dikisahkan dalam alkitab untuk mengajarkan
bagaimana komitmen doa merupakan karakterk iman dalam hubungannya dengan Allah.
Suratnya kepada jemaat di Roma pasal 12 : 9-20 memberikan gambaran kehidupan
jemaat yang senantiasa harus berjuang untuk mengalahkan kejahatan dengan
kebaikan melalui komitmentnya dalam doa. Demikian juga dalam Kolose 4 : 2-4; Efesus
6 : 18. Komitmet doa yang diajarkan Paulus dalam doanya kepada jemaat di Kolose
di suratnya kepada jemaat Kolose 1:9 juga menunjukkan adanya komitment yang
kuat dalam doanya.
Komitmen ini
tidak mudah goyah, bahkan ketika ada ancaman terhadap institusinya atau kepada
bangsa ia rela berkorban demi mempertahankan eksistensi institusi dan
bangsanya. Komitmen kontinuans berhubungan erat dengan IQ, komitmen afektif
dengan EQ, dan komitmen normatif dengan SQ. Komitment normatif doa baik Daniel
dan rasul Paulus merupakan karakter kontemplasi suprarasional.
D.
Kompetensi
Abilitas.
Kompetensi adalah keahlian untuk menjalankan
tugas profesional sebagai sebuah keahlian. Ada tiga tingkatan kompetensi yakni
kompetensi pemahaman (knowledge), keterampilan teknis (skill), dan abilitas
(abilities). Slocum (2009:23) mengatakan: “A competency is an interralated
cluster of knowledge, skilill and abilities by individual to be effective. Kompetensi knowledge
adalah penguasaan konsep melaksanakan pekerjaan, berkaitan dengan IQ. Kompetensi skill
ialah kemampuan menerapkan konsep, berhubungan
dengan IEQ. Kompetensi abilitas adalah keterpaduan pengetahuan
dan keterampilan menjadi sebuah seni (arts). Pendidikan dan pelatihan tidak hanya sebatas
memberi pemahaman konsep dan keterampilan menerapkan konsep, melainkan harus
sampai pada kompetensi abilitas. Efektvitas profesional ditentukan oleh
kualitas kompetensi penguasaan konsep, keterampilan menerapkan konsep dan
kompetensi abilitas (Manullang dan Sri Milfayetty, 2012).
Paradigma
integritas jemaat dalam doa memiliki bukan hanya kompetensi penguasan konsep
dan keterampilan menerapkan konsep melainkan sampai kepada kompetensi abilitas
di mana kompetensi sampai ke tingkat seni (arts). Kompetensi abilitas merupakan karakter paripurna karena menguasai konsep, kemampuan menerapkan, dan merasakannya sebagai sebuah
seni. Kompetensi abilitas memungkinkan orang-orang profesional merasakan kebahagiaan,
kepuasan dan kebanggan pada saat jemaat berdoa.
Kompetensi
abilitas doa jemaat yang merupakan karakter imannya mampu memancarkan energi
mulia untuk mencapai kebahagiaan menurut Sukidi (:154) bersumber dari tiga hal,
yaitu cinta pada Tuhan, berdoa dan menabur kebajikan yang membangun sifat-sifat
: bersikap tegas, bersih, terharu, percaya diri, penuh pertimbangan, memiliki
keberanian, sopan, kreatif, objektif, ketetapan hati, semangant, memuliakan,
beriman, fleksibel, berjiwa memaafkan, bersikap ramah, dermawan, berjiwa lembut
dan halus, penuh pengharapan, kejujuran, menjaga kehormatan, rendah hati,
idealisme menggembirakan, berlaku adil, mengamalkan kebaikan, menebar cinta,
memiliki loyalitas, menabur kasih sayang, bersikap moderasi, memiliki
kesederhanaan, taat dan patuh, menjaga keteraturan, menjiwai kesabaran, menjaga
kedamaian, melantunkan doa, dapat dipercaya, bersikap empati, memiliki
tanggungjawab, saling menghormati, berdisiplin, memberikan pelayanan, menjaga
ketabahan, senantiasa bersyukur, berjiwa toleran, menjunjung kepercayaan, bisa
dipercaya, bersikap geniun, dan otentik, menjaga kesatuan.
IV.
Penutup.
Karakter jemaat dalam berdoa mengandung implikasi :
- Doa merupakan sebuah komunikasi dan dalam komunikasi itu mendengarkan Allah yang berbicara merupakan sesuatu yang hakiki dan menentukkan karaktek spiritual jemaat.
- Pembangunan karakter IESQ secara komperhensif dengan membangun sikap positif, polapikir esensial, komitmen normatif dan kompetensi abilitas.
3.
Dengan
terbangunnya karakter Spirtial jemaat mengembangkan kehidupan doanya guna
menjalin hubungan dengan Allah melalui pengalaman-pengalaman
Spritual-Suprarasional.
V.
Daftar bacaan.
Alkibtab dengan Kidung Jemaat, 2010, LAI Jakarta.
Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini Jilid I A-L, 1997, judul Asli The New Bible Dictionari Published by Inter-Varsity Press.
Penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kaasih/OMF, jln Letjen Suprapto 28 Cempaka
Putih-Jakarta 10510.
Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, 1997, judul Asli The New Bible Dictionari Published by Inter-Varsity Press.
Penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kaasih/OMF, jln Letjen Suprapto 28 Cempaka
Putih-Jakarta 10510.
Alan E. Nelson2011, Spiritual Intelligence, Meraih Kecerdasan
Spiritual dengan Metode Yesus, Penerbit Andi Yogyakarta.
Bright Bill, 2001, The Coming Revivial, Menyongsong Kebangunan
Rohani, judul Asli: The Coming Revival America’s Call to Fast, Pray, and “Seek
God’s Face, terjemah : Ign. Nugroho H., S.Pd, Lembaga Pelayanan Mahasiswa
Indonesia Wilayah Indonesia Barat, Jl. D.I Panjaitan No.147/10 Medan.
Harun Hadiwijoyo, 1995, Iman Kristen, BPK Jakarta.
Manullang, Belferik dan Sri
Milfayetty, 2005 Perspektif Ilmu
Pendidikan Membentuk Kepribadian, Esensi Pendidikan IQ-EQ-SQ, Yayasan
Refleksi Pendidikan, Jln. Menteng Raya Blok A1 No 5 Medan.
Sikidi, 2002, Rahasiswa Sukses Hidup Bahagia, Kecerdasan Spiritual, Mengapa SQ Lebih
Penting Dari Pada IQ dan EQ, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta.
Suhartono, Suparlan. 2005, Filsafat Ilmu Pengetahuan, AR-RUZZ MEDIA
Jogyakarta.
Warren, Rick. 2009. The Purpose-Dreven, Kehidupan yang digerak
oleh Tujuan, Gandum Mas Jawa Timur.
Tjen, Anwar. 1994 Penerjemah Katekismus Besar marhin Luther, BPK
Gunung Mulia Jakarta.
______________,2013-2014, Kompilasi bahan Kuliah dan diskusi mata
kuliah Filsafat Pendidikan oleh Prof. Dr. Belferik Manullang.
______________, 2014, Kompilasi
bahan dari Internet.
Seseorang yang menilai dirinya
sebagai guru akan menganggap semua orang merupakan muridnya sehingga hanya
mampu berkata-kata dan sering melupakan bahwa ia merupakan teladan. (Rob Sireg)




Komentar
Posting Komentar